From This Moment On

Daisypath Anniversary tickers

Thursday, September 13, 2012

Mantu Bubak


Karena saya adalah anak perempuan sulung dalam keluarga, otomatis Bapak-Ibu saya belum pernah punya gawe mantu sebelumnya. Jadi acara pernikahan saya dan Mas nanti adalah mantu bubak atau mantu pertama dalam keluarga. Prosesi adat pernikahan nanti akan menggunakan Jawa-Solo. Adat Jawa-Solo nya akan terlihat pada busana/beskap dan blangkon yang digunakan oleh pengantin pria dan orangtua . Sedangkan saya sebagai pengantin perempuan secara riasan tidak akan kelihatan karena konsepnya lebih ke tradisional-muslimah modern.

Bapak saya termasuk yang masih nguri-nguri budaya Jawa, atau istilahnya masih melestarikan. Beliau pintar berpidato dalam bahasa Jawa halus, bisa nembang campursari dan bowo macopat, sering menjadi mc acara mantenan, beberapa kali menjadi cucuk lampah, dan sering juga menjadi wakil keluarga penganten untuk acara serah-tinampi. Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan beliau mengenai ritual acara adat apa saja yang akan dilakukan di acara pernikahan saya bulan November nanti. Pada prinsipnya, Bapak akan tetap menggunakan ritual-ritual dan unsur-unsur kejawen, tapi tidak berlebihan. Sekadar untuk menghormati dan melestarikan budaya. Tapi walaupun Bapak sendiri mengetahui ritual adat lengkap Jawa-Solo, tapi untuk saya nanti akan dipersingkat saja. Praktis, tidak ribet, hemat waktu, hemat biaya, namun tetap berbudaya. #buset :D

No siraman dan midodareni. No budget for that. Saya juga tidak minta diadakan dan Bapak sendiri juga tidak berniat mengadakan. Bapak sempat mengeluarkan lelucon, "ra usah siraman. adus dewe-dewe ae," (tidak usah siraman, mandi sendiri-sendiri saja). Walaupun mantu bubak tapi ritual bubak kawah tidak akan dilakukan. Cukup diumumkan saja oleh pembawa acara bahwa keluarga Bapak A ini melaksanakan mantu pertama dan itu dinamakan bubak harapannya begini begini..dst..dst.. :))

ilustrasi diambil dari internet

Upacara panggih/temu manten akan dilaksanakan dengan ritual lumayan lengkap. Mulai dari balangan suruh (saling melempar daun sirih), wiji dadi (injak telur dan membasuh kaki), kacar-kucur/tampa kaya (menuangkan beras dan biji-bijian sebagai simbol kemampuan untuk menafkahi), dulangan sega punar/dhahar klimah (saling menyuapi nasi kuning dan minum), mapag besan (orang tua menjemput besan), dan sungkeman. Ritual bubak kawah dan timbang/pangkon (bapak pengantin perempuan memangku kedua mempelai) tidak akan dilaksanakan dengan pertimbangan efisiensi waktu. Lagian lucu juga yaa kalau mbayangin ritual timbang dilakukan. Si Mas kan orangnya gedeee.. besaaarrr.. dan beraaaatt.. Kalau dipangku tidak akan seimbang dengan saya alias njomplang banget. Hahahaa.. Kasian juga kaan Bapak saya yang kebagian tugas mangku. :p

Baiklah.. untuk keterangan dan informasi yang lebih lengkap mengenai ritual pernikahan adat Jawa ini temen-temen bisa langsung nge-link ke jagadkejawen.com. Artikelnya cukup enak dibaca dan informatif. :D Saya sebagai anak dan calon pengantin manut-manut saja apa kata orang tua yang lebih mengerti. Tidak ada salahnya juga sebagai orang Jawa ikut menghormati dan melestarikan tradisi leluhur. Kalau untuk ritual lengkap memang ribet dan membutuhkan banyak biaya. Jadi kita juga sesuaikan dengan rangkaian acara dan kemampuan finansial siiih.. Yang penting esensi utamanya yaitu panggih/temu manten tidak ketinggalan, kalau ritual-ritual yang lain hanyalah pelengkap dan bisa dilaksanakan/tidak sesuai kondisi keluarga masing-masing. :)

-anna-

4 comments:

Annisa mulia said...

Waaaaah.. Deg-degan pasti yah? xD
Belum perna liat pernikahan pake adat Jawa >.<

Fenty Fahminnansih said...

samaaa, aku gak pake midodaren, tapi pake panggih :D

aku mantu bubak juga gak ya, secara kita cuma berdua, aku sama masku, masku udah nikah, jadi ini yang pertama dari pihak perempuan, dan penutupan untuk keluarga, istilahnya apa ya itu ?

anyway, panggilanmu apa sih, hehehe, af ? ria ? afriana ? :p

Afriana Kartikasari said...

@Annisa: Hayuuk say, datang ke acara nikahanku.. :D

@Fenty: boleeh panggil Anna Fen. :D Mungkiin kamu sekaligus bubak dan tumplak/mantu terakhir. Kalau orang Jawa kan dibilang mantu untuk anak perempuan saja.. ;p
oh ya, ada twitter gak? feel free to follow @afrianakartika , nanti kufolback :D

Annisa mulia said...

Hihihihih.. Asik ya ada yang namanya mantu bubak dan tumplak. Kalau di Aceh, seingat aku ngga ada.. hehehehe
salam kenal, dear ^^