From This Moment On

Daisypath Anniversary tickers
Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Sunday, July 1, 2012

Movie Review: Julie and Julia


Mengenang penulis dan sutradara komedi romantis Hollywood, Nora Ephron, yang meninggal pada tanggal 26 Juni 2012 yang lalu di usianya yang ke-71 karena penyakit Leukimia, saya pengen mereview salah satu film romcom favorit saya yang ditulis dan disutradari oleh Ephron, Julie and Julia. Karir Ephron di Hollywood sebagai penulis dan sutradara menghasilkan karya-karya legendaris seperti When Harry Met Sally, Sleepless in Seattle, You've Got Mail, dan Julie and Julia, yang akan selalu diingat dan digemari oleh penggemar film sampai kapan pun.

Julie and Julia dibintangi oleh Meryl Streep, Amy Adams, Stanley Tucci, dan Chris Messina. Dalam satu film terdapat dua kisah hidup Julia Child (Streep) di tahun 50-an dan Julie (Adams) di tahun 2002. Based on true story, film ini bercerita tentang bagaimana buku resep masakan Perancis hasil karya Julia Child, Mastering the Art of French Cooking menginspirasi hidup Julie Powell.

Julia Child seorang wanita Amerika yang mengikuti suaminya yang bijak, Paul (Stanley Tucci), seorang diplomat yang dipindahkan ke kedutaan Amerika di Paris, Prancis. Julia kemudian berusaha mengisi waktu luangnya dengan belajar memasak makanan Perancis di sebuah cooking academy terkenal Le Cordon Bleu. Pada awalnya kemampuan Julia sempat diremehkan. Apalagi Le Cordon Bleu muridnya kebanyakan pria dan bertujuan mencetak chef dengan kualitas tinggi. Tapi berkat usaha dan kerja keras, Julia berhasil lulus dan mendapatkan pengakuan dari Le Cordon Bleu. Kemudian Julia bersama beberapa sahabatnya mencoba mengumpulkan resep-resep masakan Perancis dan berusaha menerbitkannya. Ketika akhirnya Julia berhasil menerbitkan bukunya, hingga saat ini buku itu menjadi semacam panduan bagi perempuan Amerika untuk bisa memasak masakan Perancis dengan mudah di rumah sendiri.


Julie Powell yang bekerja di sebuah kantor pemerintah yang menangani aduan korban Tragedi 9/11 mulai merasa jenuh dengan rutinitasnya. Hidupnya mulai terasa hampa. Ia juga kehilangan passion pada dunia tulis-menulis yang dulu sempat ditekuninya. Hingga akhirnya ia men-challenge dirinya sendiri untuk mencoba ratusan resep masakan Prancis dalam buku Julia Child dalam waktu satu tahun dan mendokumentasikannya dalam sebuah blog yang diberinya nama The Julie/Julia Project. Dalam usahanya itu, ia mendapatkan dukungan penuh dari suaminya yang baik hati, Eric (Chris Messina). Dalam kegiatan memasaknya, Julie menemui banyak tantangan, kesulitan, tapi juga kesenangan dan kepuasan kala resep yang dicobanya berhasil. Blognya pun lama kelamaan mendapat banyak hits dan ia mulai terkenal sebagai blogger dan mendapat banyak perhatian dari media, dan akhirnya juga menerbitkan buku tentang kisah The Julie/Julia Project.


Dibintangi oleh nama besar seperti Meryl Streep dan Amy Adams, tak usah lagi meragukan kualitas film ini. Streep dengan brilian memerankan Julia Child yang ikonik, kekanakan, namun bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Amy Adams pun sangat lovable (yesss!! ngefans banget sama dese sejak Enchanted) sebagai Julie Powell yang merasa putus asa namun berusaha menyalakan gairah hidupnya lagi dengan memasak dan menulis.

Film ini berhasil mendapat rating yang bagus dari kritikus dan mendapat banyak nominasi dan penghargaan mulai Golden Globe sampai Oscar. Terutama untuk penampilan Meryl Streep sebagai Julia Child yang lewat film ini lagi-lagi menggondol Golden Globe Awards tahun 2010 sebagai Best Performance by an Actress in a Motion Picture - Comedy or Musical. Yang unik dalam film ini kisah Julie dan Julia yang terpisah, sehingga tidak ada scene yang mempertemukan Meryl Streep dan Amy Adams secara langsung. Julie and Julia merupakan film terakhir yang ditulis dan disutradai langsung oleh Nora Ephron. Sebuah kisah yang manis dan menghangatkan hati. Dan penuh makanan enaakk..!! Bon Appétit!!! :)


-anna-

Tuesday, December 27, 2011

Movie Review: Midnight in Paris



Director: Woody Allen

Casts: Owen Wilson, Marion Cottilard, Rachel McAdams, Kathy Bates, Carla Bruni, Adrien Brody

 

Gil Pender (Owen Wilson) seorang penulis naskah film berada di Paris bersama tunangannya Inez (Rachel McAdams) dan orang tua sang tunangan yang sedag dalam perjalanan bisnis. Inez sangat bersemangat menikmati liburannya sementara Gil tampak lesu dan galau, memikirkan inspirasi untuk penulisan novel pertamanya.

Pada suatu malam, Gil yang bosan pada suasana pesta berjalan sendirian menikmati suasana malam. Tanpa ia sadari saat jam berdentang tengah malam, ia melakukan time travel menuju Paris tahun 1920-an, yang selalu disebutnya sebagai periode emas dalam sastra dan seni. Dalam perjalanan lintas waktunya yang misterius itu, Gil bertemu dan berinteraksi dengan banyak seniman terkenal seperti F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Pablo Picasso, Salvador Dali, Gertrude Stein, Henri Matisse, hingga musisi Cole Porter. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang akan terjadi pada kehidupan Gil selanjutnya setelah tengah malam misterius di kota Paris?


Film dibuka dengan menampilkan pemandangan dan lanskap kota Paris dengan sinematografis yang dramatis diiringi scoring musik khas broadway nan klasik. Paris yang indah dan romantis. Siangnya yang hangat dan tenang dan malamnya yang berkilauan. Istana Versailles, Museum Louvre, Champs-Elysees, Arc de Triomphe, Place de la Concorde, jalanan khas kota Paris dengan kafe-kafe, pemandangan eksotis di sepanjang tepian Sungai Seine, dan tak lupa, Menara Eiffel. Dari epilognya saja, sudah diperlihatkan kota Paris, the city of love, which is really beautifully romantic. <3 <3. My dear love, let’s go see Paris!!! (>,<) *daydreaming.

Menara Eiffel dilihat dari Place de la Concorde

Casts nya mulai dari Owen Wilson, Rachel McAdams, Marion Cottilard, Kathy Bates, Adrien Brody.. level Oscar deh! Dan bahkan kita bisa melihat Carla Bruni, first lady of France, ikut tampil sebagai cameo dan berperan sebagai museum guide di Istana Versailles. Saya suka banget dengan Rachel McAdams di sini, cantik dan atraktif. Hubungan Gil dengan Inez pun cukup unik dan beberapa kali membuat saya tertawa. Gil yang romantis dan Inez yang rasional. Gil yang berpendapat bahwa hidup di kota Paris itu romantis, menulis di kafe sambil makan bagel itu romantis, dan berjalan-jalan di bawah guyuran air hujan itu romantis. Sementara Inez dengan cueknya bilang, Siapa bilang hujan-hujanan itu romantis? SShh, I don’t like wet! Ahahaa… Interesting!




Dari film ini, saya baru tahu lagu Let’s Do It (Let’s Fall In Love) yang pernah saya nyanyikan sewaktu bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa, merupakan lagu klasik yang diciptakan Cole Porter untuk drama Broadway Musical In Paris (1928). Dan nama-nama seperti novelis Gertrude Stein, pelukis Henri Matisse.., hhmm.. nontonnya sambil googling Wikipedia inihh.. :D


Ini adalah film kedua Woody Allen yang pernah saya tonton setelah Vicky, Christina, Barcelona (2008). Midnight In Paris sendiri konon kabarnya merupakan gambaran dan obsesi pribadi dari Allen, di mana dia menggambarkan kota Paris seperti yang selalu diimpikannya selama ini. "I just wanted it to be the way I saw Paris - Paris through my eyes" (Woody Allen) - from wikipedia

Midnight In Paris is funny romantic. And beautifully artistic. Yes, It is. :)

Thursday, August 11, 2011

Movie Review: The Adjusment Bureau


Director: George Nolfi
Cast: Matt Damon, Emily Blunt, Anthony Mackie

David Norris (Matt Damon) adalah seorang politisi muda yang sukses dan ambisius, yang sedang berkampanye untuk dapat terpilih menjadi senator termuda di New York. Namun ia mengalami kekalahan dalam pemilu. Di tengah kegalauannya menyiapkan pidato kekalahan, di toilet hotel ia bertemu dengan seorang balerina cantik, Elise (Emily Blunt), dan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Tak dikira, suatu pagi, David kembali bertemu dengan Elise secara tak sengaja di atas bus kota. Mereka pun mengobrol lebih panjang dan Elise memberikan nomor teleponnya. David berjanji untuk menghubungi gadis itu kemudian. Namun, sesampainya di kantor, David menemui sekelompok orang-orang misterius sedang melakukan kegiatan aneh semacam cuci otak pada penghuni kantor.


David yang tidak sengaja mengetahui kegiatan rahasia itu kemudian dibawa pergi oleh orang-orang misterius dan diberi peringatan. Orang-orang yang menamakan diri mereka The Accountant memberitahu David bahwa mereka adalah para pengawal takdir yang sudah digariskan, oleh yang disebut mereka The Chairman. Di situ pula David diberi tahu, ia tidak boleh lagi bertemu atau memikirkan si gadis balerina lagi, karena takdirnya demikian. Jika David melanggar ketentuan itu, maka pikirannya akan diinstal ulang, sehingga ia tidak akan lagi menjadi dirinya yang sekarang.


Namun, nasib lagi-lagi mempertemukan ia dengan Elise, sehingga ia harus sembunyi dan berkejaran dengan para pengawal takdir. Akankah David memperjuangkan cintanya dengan Elise? Atau haruskah ia merelakan kekasih hatinya kembali pergi dari pelukannya dan menyerah pada "takdir"? Sebuah kisah drama romantis berbalut science fiction yang menarik. Film ini dibuat berdasarkan sebuah cerpen karya Philip K. Dick.


Sebuah kisah yang unik, menurut saya. Chemistry yang dibangun oleh Matt Damon dan Emily Blunt sangat bagus sehingga menjadikan pondasi film ini begitu kuat. Karakter David Norris yang cerdas, ambisius, dan tidak menyerah begitu saja pada takdir mewarnai durasi film sepanjang 1 jam 39 menit ini. Karena ada unsur fantasy, mungkin film ini sedikit tidak masuk akal. Namun sebagai film drama romantis, mungkin memang harus dipilih sebuah ending yang manis kaan, jadi kesimpulannya kekuatan cinta bahkan bisa mengalahkan takdir yang sudah digariskan. eheemm... so sweet.. <3

Friday, March 25, 2011

Movie Review: 127 Hours

Director: Danny Boyle
Casts: James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn, Clemence Poesy


Suatu hari, saya membeli tabloid Nyata dan membaca sebuah kisah di dalamnya, kisah tentang Aron Ralston, seorang pecinta alam yang ketika sedang berpetualang sendirian di daerah bebatuan canyon, mengalami kecelakaan sehingga jatuh ke dalam tebing dan tangan kanannya terjepit batu besar. Berhari-hari Aron bertahan hidup. Sampai pada hari kelima, ia yang takjub mendapati dirinya masih belum mati, memutuskan untuk memotong tangannya sendiri dan memanjat ke atas tebing untuk mencari bantuan. Dan yaahh… dia berhasil diselamatkan meski harus merelakan tangan kanannya. Kejadian itu berlangsung tahun 2003. Aron Ralston saat ini berumur 30 tahun, sehat, istrinya baru saja melahirkan seorang putera, dan ia masih aktif melakukan kegiatan petualangan, dan memanjat tebing. Hanya saja ia sekarang tidak pernah mendaki sendirian dan selalu memberitahukan kepada keluarganya kemana ia pergi.

Rasanya ngilu, walau hanya membaca kisah Aron Ralston bertahan hidup di tengah jepitan batu di Blue John Canyon. Hanya membaca. Bagaimana mungkin seseorang dengan berani memutuskan untuk mengamputasi tangannya sendiri?? Ooh.. crap!!
Kisah heroic Ralston inilah yang menginspirasi sutradara peraih Oscar, Danny Boyle (Slumdog Millionaire) untuk memfilmkan dan mengajak penonton ikut merasakan 127 jam terlama dalam hidup Aron. Well, this is not kind of movie that I wanna see. Definitely. Maksudnya, kita kan sudah tahu akan bagaimana ending dari ceritanya? Pastinya akan ada adegan amputasi tangan. Itu kan klimaks dari kisah ini….

Tapi kemudian saat saya tiba-tiba menguatkan niat untuk pingin melihat. Dan berkat nonton bersama beberapa teman, Alhamdulillah, berhasil melewati dengan baik walau untuk adegan utamanya saya Cuma ngintip-ngintip sekilas dari balik bantal. Ahahahaaa… ;)


James Franco merupakan kekuatan utama film ini. Aktingnya yang brillian berhasil membius penonton. Franco berakting dengan baik sebagai Aron Ralston, yang bersemangat, berani, dan juga pantang menyerah. Salut juga untuk Danny Boyle yang well, berhasil menyutradarai 127 Hours, sehingga menjadi film yang sungguh mengesankan. Musik scoring dari A.R Rahman, composer music asal Bollywood, sungguh memberikan warna berbeda bagi film ini, sehingga penonton merasakan semangat perjuangan untuk bertahan hidup, dan betapa keluarga dan sahabat adalah sangat berarti.

Begitu meluapnya semangat Aron untuk bisa survive, hingga ketika ia berhasil selamat saya pun ikut terharuuuu… sampai merindiiinggg gitu deeh nontonnya. ;’) Dan pastinya 127 Hours berhasil mendapatkan banyak nominasi dan piala dari banyak ajang penghargaan film selama tahun 2010 dan 2011. A triumphant true story!!

-anna-

Wednesday, January 20, 2010

Movie Review: Changeling



Casts: Angelina Jolie, John Malkovich, Jeffrey Donovan
Director: Clint Eastwood

Los Angeles, 10 Maret 1928. Diceritakan seorang perempuan single mother, Christine Collins ( Angelina Jolie), tinggal sendiri bersama anak semata wayangnya yang berusia 9 tahun, Walter. Christine bekerja sebagai supervisor di perusahaan komunikasi. Samua baik-baik saja, ketika esoknya Christine membatalkan janjinya kepada Walter untuk mengajaknya jalan-jalan karena harus tugas lembur. Saat pulang ke rumah, betapa lemasnya Christine karena Walter hilang dari rumah. Christine pun melaporkan hilangnya Walter kepada LAPD.

Lima bulan kemudian, Kapten J.J. Jones (Jeffrey Donovan) dari bagian anak hilang Kepolisian Los Angeles menghubungi Christine dan mengabarkan bahwa departemennya berhasil menemukan Walter Collins. Dengan bahagia, Christine menjemput anaknya yang hilang di stasiun. Namun, alangkah terkejutnya ia, ketika anak yang dikatakan sebagai Walter Collins oleh polisi ternyata bukan Walter. Dalam keterkejutannya, Christine dipaksa Kapten Jones untuk mengakui anak tersebut di hadapan wartawan.

Christine kemudian berusaha membuktikan kepada polisi bahwa anak itu bukanlah anaknya yang hilang. Dengan kesaksian dari guru sekolah sampai dokter gigi Walter, dengan harapan bahwa polisi akan kembali melakukan pencarian terhadap Walter. Namun, polisi menilai Christine mengganggu dan malah menjebloskannya ke rumah sakit jiwa dengan tuduhan berdelusi dan tidak mengakui anak kandungnya.

Mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari LAPD, yang saat itu memang buruk reputasinya dan sangat tidak melindungi masyarakat, Christine sangat putus asa. Tapi untunglah dia mendapat bantuan dari Pendeta Gustav Briegleb (John Malkovich), tokoh masyarakat yang konsisten membongkar kebusukan polisi.




Sementara itu, jauh dari Los Angeles, sebuah ranch di perbatasan Kanada, Detektif Lester Ybarra (Michael Relly), menemukan fakta mencengangkan, tentang sebuah pembunuhan berantai keji yang dilakukan terhadap puluhan anak-anak, oleh si pemilik ranch, Gordon Northcott. Dan saksi pembunuhan tersebut, keponakan Gordon Northcott, menyatakan bahwa Walter Collins merupakan salah seorang korban penmbunuhan itu.

Bagaimana pejuangan Christine dalam mendapatkan kebenaran? This is such an emotional movie!!

My comments:

Saya bukan penggemar Angelina Jolie, juga bukan penggemar Clint Eastwood, walaupun saya tahu kapasitas Mr Eastwood sebagai actor dan juga sutradara handal yang kerap menjadi langganan nominasi Academy Awards. Setelah saya sewa, film ini lama saya simpan di computer saya sebelum sempat menonton.

Ceritanya berdasarkan kisah nyata, tentang perjuangan seorang ibu muda melawan kebobrokan hukum dan kepolisian, di tengah keputusasaan dan kesedihannya karena anak laki-lakinya hilang tak tahu di mana. Lewat Changeling, Angelina Jolie mendapat nominasi Best Actress dalam Academy Awards 2009. Memang pantas. Aktingnya bagus banget. Tapi selain acting Jolie yang te-o-pe, Changeling memang film drama yang bagus. Sangat menyentuh, so emotional. Alur ceritanya kuat, dan mengharukan.

Didukung oleh scoring yang bikin merinding, dan juga setting yang bagus. Yang bikin saya kagum, Hollywood selalu mampu menyajikan pemandangan dan suasana sesuai setting cerita. Di Changeling, tim artistiknya dengan sempurna menghadirkan Los Angeles tahun 1930-an, lengkap dengan trem dan juga fashionnya. Intinya, filmnya bagus dan saya rekomendasikan bagi anda yang belum menontonnya.

cheers,
-anna-

Tuesday, November 17, 2009

Movie Review: Rachel Getting Married



Apa yang ada dalam suatu pernikahan? Persiapan pesta yang heboh? Rumah yang ramai dan berantakan? Suasana meriah? Banyak anggota keluarga berkumpul? Riuh? Sibuk? Indah? Bahagia?

Kym Buchman (Anne Hathaway) mendapat ijin keluar dari rehabilitasi untuk menghadiri pernikahan Rachel (Rosemarie DeWitt), kakaknya. Setiba di rumah, Kym mendapati suasana rumah yang ramai menjelang persiapan pernikahan. Segera, ia pun terlibat dalam riuh rendah pernikahan Rachel. Mulai dari pengepasan baju, kekacauan rumah, perkenalan dengan anggota keluarga baru.. Namun, ternyata tak semua yang ada dalam persiapan pernikahan itu indah. Tak seluruhnya ada tawa, musik, dan kebahagiaan. Seperti yang dialami oleh Kym.

Kym merasa bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Ia merasa terbuang dan diacuhkan. Pertengkaran mulai terjadi. Luka lama kembali terbuka. Cerita lalu dan pengakuan dibeberkan. Kesedihan dan kehampaan kembali dirasakan. Apakah pernikahan ini sesungguhnya membawa kebahagiaan bagi semuanya???

My comment:

Such a nice drama! Film yang bagus. Dengan acting pemain yang top, dan sudut pandang pengambilan gambar yang lain daripada film biasa. Tokoh Kym secara sempurna diperankan oleh Anne Hathaway yang memesona. Film Rachel Getting Married ini disutradarai oleh Jonathan Demme, sutradara peraih Oscar lewat Silence of the Lamb. Lewat film ini pula Anne Hathaway diganjar nominasi aktris terbaik Academy Award 2009. (Sebenarnya ini yang bikin saya penasaran nonton. Kayak apa sih filmnya, dan aktingnya Anne Hathaway sampek dikasih nominasi Oscar?? :P Seperti saat saya nonton La Vie en Rose, gara-gara penasaran aktingnya Marrion Cottilard doang).

Filmnya beda dari film biasa. Cara nge-shootnya dibikin seperti film dokumenter. Jadi seperti menonton film dokumentasi pernikahan saudara yang dishoot dari handycam biasa. Rasanya dekat dengan mereka, tokoh-tokoh film ini. Feels like we’ve been there and being a part of this family.

Pada awalnya, rasanya film ini terasa membosankan. Saya menontonnya di suatu hari Minggu pagi yang santai lewat laptop. Di kamar, sendirian saja. Namun, kebosanan itu perlahan luntur saat pertengahan film mulai terlewati. Konfliknya mulai jelas, dan lewat pengambilan gambarnya yang seperti film dokumenter itu, membuat kita seakan-akan ada di dalamnya, seperti ikut terlibat langsung dalam setiap jengkal permasalahan yang tercipta di rumah keluarga Buchman menjelang pernikahan Rachel.




Harus saya akui, akting Anne Hathaway di sini bener-bener bagus. Sebagai Kym yang depresi, alkhoholik, dan penuh kepahitan hidup, ia berhasil menarik simpati. Namun, akting pemain lain pun tak kalah moncer. Rosemarie DeWitt pastinya juga berhasil menghidupkan tokoh Rachel, mengimbangi akting ciamik Anne Hathaway . Tokoh sang Ayah, Paul (Bill Irwin) dan Ibu kandung Rachel dan Kym (Debra Winger), berhasil membawakan perannya dengan baik. Dan akhirnya, saya sangat menikmati setiap menit drama yang terjadi. Ikut tersenyum saat scene bahagia Rachel dan Sidney, calon suaminya. Ikut terharu saat keluarga besar mereka mengucapkan doa, selamat, dan pengharapan untuk kedua mempelai, bahkan, saat terjadi pertengkaran keluarga antara Kym dan Rachel yang mengakibatkan terbukanya luka lama dan tragedi yang pernah terjadi dalam keluarga, membuat saya ikut-ikutan menangis.. T_T (nggak lebai lhooo!!)

Aniway, sebanyak apapun masalah yang terjadi dalam suasana jelang pernikahan, selalu, pastinya, pernikahan membawa banyak pengharapan dan kebahagiaan. Di pernikahan Rachel ini pun ada banyak cinta, doa, keharuan, ketulusan hati, kesenangan, tawa, dan musik. Yang cukup unik dari film ini, pernikahan Rachel didesain multi culture. Sidney dan keluarganya adalah kulit hitam, konsep pernikahan mereka adalah pernikahan Hindustan, sedangkan wedding plannernya orang Cina (Asia)!!
Film yang recommended untuk ditonton. Setidaknya, memberikan alternatif tontonan yang berbeda dari kebanyakan film. :) Oia, dengan keberhasilannya mendapatkan rating lebih dari 80% di RottenTomatoes.com, Rachel Getting Married tentunya wajib tonton dooong bagi penggemar drama!

Monday, March 30, 2009

Movie Review – Kambing Jantan: The Movie (Sebuah Catatan Pelajar Bodoh)


Kamis, 5 Maret 2009. Siang itu Puput mengirimkan sms ke saya yang berisi ajakan untuk menonton Kambing Jantan: The Movie. Hari itu adalah pemutaran perdananya, serentak di bioskop-bioskop di Indonesia. Awalnya bimbang dan agak males nonton, secara seharian saya agak sibuk -cuman agak lupa apa aja yang kukerjakan pada hari itu, hehee- Namun, akhirnya saya nonton juga di Delta bareng Puput, Ariyani, dan Wulan. Shownya dimulai pukul 19.30. Suasana Delta 21 cukup ramai dengan banyaknya pelajar dan mahasiswa yang nonton. Ya, nggak heran, Raditya Dika emang udah punya penggemar fanatik, so, pastinya film ini sudah ditunggu-tunggu sama fansnya, termasuk saya kali yaa.. 

Film ini diangkat dari novel laris Kambing Jantan tulisan Raditya Dika, yang berisi pengalaman-pengalaman aneh, lucu, dan ajaib Radit. Film ini disutradarai oleh Rudy Soedjarwo. Castnya Raditya Dika sendiri as Himself, Herfiza as Kebo, dan Edric Tjandra as Hariyanto. Film ini (kenapa tiga kalimat di paragraf kedua ini selalu diawali dengan kata-kata Film ini?) bercerita tentang kehidupan Radit, seorang pelajar SMA biasa yang punya cinta, keluarga aneh, dan pengalaman-pengalaman seru bin ajaib kuliah di Australia. Aniway, saya punya ekspektasi lebih sama film ini. Dalam bayangan saya, Kambing Jantan: The Movie bakalan heboh, lucu abiz, dan full komedi. Namun…

Kenyataan tak seindah yang diharapkan. Dalam film, Radit digambarkan sebagai pelajar SMA yang rada-rada serius dan sedikit bodoh. Walaupun mengandung konten komedi yang bikin ngakak, tapi porsi dramanya juga gak sedikit. Agak jayus juga sih. Filmnya jadi lebih fokus pada hubungan cinta Radit sama Kebo, susahnya menjaga hubungan yang LDR, sampai datangnya godaan dari pihak ketiga. Bagian serunya adalah pada saat Radit mulai kuliah di Australia, dan berteman dengan Hariyanto, orang keturunan asal Kediri yang lugu abiz dan medok poll. Scene favorit saya adalah waktu Radit puyeng gara-gara di Aussie semua orang ngomong pake bahasa Inggris, dan akhirnya suara dosennya didubbing bahasa Indonesia, nggak banget deeh, trus juga waktu Radit diajak kerja sambilan Hariyanto untuk cari tambahan duit biar bisa buat beli kartu telepon. Masak side jobnya mandiin mayat, hiii… tapi konyol abis, waktu Hariyanto dengan santainya bilang, “Udah, tenang aja, anggap aja manekin”, sambil ngemek-ngemek tubuh mayat, trus dia pingsan waktu ngeliat mayat yang mau dibersihkannya berlumuran darah dan jahitan. Dan juga waktu Hariyanto secara nggak sadar ngikut Radit naik taksi ke bandara sambil bawa wadah buat minta beras, heheee..

Kondisi tubuh yang nggak fresh saat itu bikin saya agak mengantuk saat mulai nonton. Sebenarnya saya mengharapkan filmnya bakalan lucu banget so bisa bikin ngantuk saya ilang. Tapi yang terjadi sodara-sodara, durasi film yang panjang (hampir 2 jam loh!), dan fokus cerita ke hubungan Radit-Kebo yang penuh masalah bikin saya jadi males. Alhasil, mata juga gak bisa diajak kompromi. Ngantuk banget, sumpah!! Apalagi waktu adegan telpon-telponan di akhir-akhir film, bubuk deh gw!! Biznya ngebetein banget! Si Kebo itu!!

Yea, well, seperti biasa, itulah yang terjadi kalo saya nonton film adaptasi novel, yang novelnya sudah saya baca duluan. Kebanyakan mengecewakan.. Tapi yah, kita harus appreciate yah, buku emang gak bisa disamakan dengan film. So pasti lah, film beda sama novelnya. Overall, film ini cukup menghibur laah. Sayangnya, kok nggak bertahan lama ya di bioskop Surabaya? Belum ada tiga minggu uda abis tuh shownya. Genre film ini emang segmented sih, remaja, dan penggemar Raditya Dika. Di luar itu, orang-orang males buat nonton. Tapi emang ya, genrenya orang Indonesia (baca: Surabaya) masih belum beralih dari horor dan komedi mesum. Liat aja, Kuntilanak Kamar Mayat masih lebih eksis tuh daripada Kambing Jantan, hehehee..



Okay, sekian review dari saya. Dan karena sekarang ini Raditya Dika uda jadi artis (bintang pilem), so, saya mau pamer aahh foto mesra saya bareng Radit.. hahaahaa.. *pernah foto berdua lohh sama raditya Dika ^^v*


Cheers,
-anna-

Thursday, February 5, 2009

Movie Review: WALL-E


700 tahun setelah perjalanan penduduk bumi ke luar angkasa karena kondisi bumi yang semakin tercemar dan tertutup oleh sampah. Di bumi, ultrastore Buy and Large (B&L) mempekerjakan robot-robot pengompress sampah, yang diberi nama WALL-E (Waste Allocation Load Lifter Earth). Saat ini, di bumi, hanya tinggal tersisa satu robot robot WALL-E. Dan, si robot kecil ini menjalani hari-harinya yang membosankan dan sepi dengan mengompress sampah-sampah yang memenuhi bumi dan menyusunnya menjadi tumpukan balok raksasa yang menyerupai gedung bertingkat. WALL-E hanya memiliki teman seekor kecoak immortal.

Untuk mengusir rasa sepinya, WALL-E hobi mengumpulkan benda-benda yang menurutnya unik, aneh, dan lucu. Ia mengoleksi bola lampu, korek gas, garpu, sendok, sampai keping CD. Barang favoritnya adalah iPod yang menyiarkan video film musikal lama Hello Dolly. Sehabis bekerja, WALL-E paling hobi menyetel iPod dan menikmati gambar orang-orang yang sedang menyanyi dan menari, juga mengagumi adegan tokoh film yang sedang berduet mendendangkan lagu cinta sambil berpegangan tangan.

Suatu hari, bumi kedatangan kapal induk raksasa dari angkasa luar dan meninggalkan sebuah robot berbentuk lonjong berwarna putih (Kalo menurut review yang saya baca, robot ini bentuknya mirip sama iPod. Nah, ternyata, Pixar, studio yang bikin ini pilem, yang punya tuh Steve Jobs, bosnya Apple, nah lhoo). Si robot ini tampaknya sedang sibuk dan serius sekali mencari sesuatu di antara tumpukan-tumpukan sampah. WALL-E tertarik pada si robot dan diam-diam mengikutinya. Setelah melewati beberapa adegan tembakan dan ledakan (lebai amat deskripsinya), kedua robot ini pun berkenalan. Lucu deeh adegan perkenalan WALL-E dengan si EVE ini. WALL-E kemudian mengajak EVE ke rumahnya (anyway, rumahnya ini adalah tempat sampah gede yang disulap WALL-E menjadi tempatnya beristirahat sejenak dari segala beban hidup,yailah..).

WALL-E dengan semangat menunjukkan barang-barang miliknya dan tentu saja video favoritnya. Namun, saat WALL-E menunjukkan sebuah bibit tanaman yang ditemukannya tempo hari, EVE langsung mengambil tanaman itu dan memasukkannya ke dalam tubuhnya, kemudian ia mati alias inactive. WALL-E hanya bisa terkaget-kaget dan hanya pasrah melihat teman barunya mati.

Kemudian, setelah itu, datanglah kembali kapal induk untuk menjemput EVE. WALL-E yang tidak rela EVE pergi kemudian mengikuti kapal itu sampai ke luar angkasa. Di dalam kapal AXIOM, pesawat itu mendarat, dan ternyata di sanalah seluruh penduduk bumi berada. Mereka hidup dengan bergantung sepenuhnya pada teknologi. Berkomunikasi lewat layar komputer, dan melakukan segalanya dengan bantuan robot. Mereka duduk di kursi otomatis, tidak pernah bergerak dan beraktivitas, sehingga akibatnya tubuh mereka menjadi gemuk-gemuk. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana WALL-E dapat menyelamatkan EVE? Dan mungkin juga menyelamatkan bumi? You better wacth!!




My comment:
Awesome! A very fun and different animation movie! Nggak perlu diragukan lagi, secara kreator dari film produksi Disney-Pixar ini adalah Andrew Stanton, sang kreator Finding Nemo (one of my fave movies ). Stanton sebenarnya sudah punya ide tentang film ini lama, namun baru akhirnya film ini jadi dan rilis pertengahan tahun 2008.

Berbeda! Selama hampir 30 menit pertama film ini berjalan, hampir gak ada dialog, minim banget lah. Suara-suara yang muncul hanya lagu-lagu, suara presiden B&L, dan suara roda kaki WALL-E yang berjalan dan suara WALL-E yang cuma ngik, oik.. gitu aja, yang lucu dan imut banget, hehehee. Kekuatan utama film ini terletak pada cerita dan pesan yang disampaikan. Seperti film-film Pixar lainnya (macam Finding Nemo, The Incredibles, Cars), film ini high quality banget lah. Teknik animasinya bagus banget. Robot-robot yang ada pada film ini bergerak seakan punya perasaan dan jiwa (halah..), bahasa tubuhnya kena banget, lebih manusiawi daripada manusianya sendiri. Cuma mungkin, karena tergolong film animasi yang nggak ringan, maka rasanya WALL-E akan lebih bisa dinikmati oleh penonton dewasa daripada penonton anak.
Aniway, Pesennya bagus banget. Yaitu agar umat manusia itu selalu menjaga dan merawat bumi agar tidak tercemar, agar senantiasa hijau dan nyaman ditinggali. Pas banget kan, apalagi sekarang lagi heboh isu global warming lah, pencemaran lingkungan lah..

Di film ini juga digambarkan betapa interaksi sosial di antara manusia sangatlah kurang, bahkan nyaris nggak ada. Sentuhan fisik dan emosional yang diperlukan untuk menjaga hubungan personal tidak lagi ada karena manusia terlalu terlena oleh kemajuan teknologi. Filmnya bikin ketawa, terharu, dan yang terpenting menyadarkan kita untuk mencintai dan menjaga bumi kita tercinta. Nggak heran kalo berbagai nominasi dan penghargaan ngikuuut aja di belakang WALL-E. Yang terhangat adalah Golden Globe Awards untuk film animasi terbaik. Dan yakin dong, kalo WALL-E juga bakal meraih Academy Awards tahun ini untuk kategori yang sama.


Cheers,
-anna-

Thursday, December 11, 2008

Movie Review: 007; Quantum of Solace



Nonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, di 21 Delta Kamis malam tanggal 20 November bareng temen-teman kuliah. Walaupun shownya jam 21.30, tapi kursi di dalam studio terlihat penuh. Untungnya, seminggu sebelumnya saya barusan nonton film Bond sebelumnya, Casino Royale, debut Daniel Craig as James Bond. Kalo nggak nonton yang itu, dijamin nggak bakalan mudeng dehh, karena film ini merupakan lanjutan, bener-bener sambungan dari Casino Royale. Adegan pertamanya adalah James Bond membawa musuhnya, Mr White untuk diinterogasi. Adegan itu merupakan kelanjutan dari adegan terakhir di Casino, di mana Bond melumpuhkan si Mr. White. Jadi, di sepanjang film ini nama-nama lakon lainnya seperti Vesper, Le Chiffree, Mr. White, dan Mathis, masih disebut-sebut. Beberapa tokohnya bahkan masih ikutan muncul dan punya peran penting juga. So you better watch the first movie before you watching this Quantum of Solace.

Di Quantum, Bond’s girlnya, Camille (Olga Kyrilenko), nggak cantik-cantik banget. Mukanya malahan mirip orang Indonesia, abis kulitnya coklat gitu deeh. Bahasa Inggrisnya juga nggak begitu lancar. Si cewek ini mempunyai tujuan membalaskan dendam keluarganya pada jendral Medrano lewat musuh utama film ini, Dominic Green. Maka dalam mewujudkan tujuannya itu, akhirnya dia bekerjasama dengan James Bond. Ada satu lagi ceweknya, namanya Miss Fields, seorang pegawai dari kedutaan Inggris di Bolivia yang ditugaskan membantu dan mengawasi James Bond yang waktu itu lagi dicekal sama bossnya. Orangnya cantik, tinggi, putih, khas model2 catwalk, dan mirip mannequin (bukan manusia dong, hehe). Kali ini, di dalam misi menuntaskan tugasnya dan memburu musuh utamanya, Bond menyelipkan kepentingan pribadi untuk mencari siapa sebenarnya pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa Casino yang menewaskan Vesper (Eva Green), cinta pertamanya.



Overall, filmnya lumayan keren. Dibanding Casino yang menurut saya ceritanya lebih “drama”, Quantum menampilkan lebih banyak adegan laga, dan juga musuh yang juga lebih canggih. Siapa sangka asisten pribadi dari M (Judy Dench), pemimpin agen rahasia Inggris, ternyata berkhianat dan menjadi mata-mata musuh. Teknologi yang ditampilkan masih tetap canggih banget, dan yang canggih juga, setting film yang berganti-ganti, mulai dari Amerika Latin, sampai negara-negara di Eropa seperti Inggris, Italia, dan Rusia. At least walaupun saya bukan penggemar James Bond, saya menikmati aksinya. Apalagi Daniel Craig udah cocok banget jadi James Bond. Cukup sayang untuk melewatkan film ini.

cheers,
-anna-

Wednesday, November 5, 2008

Movie Review - The Kite Runner


The Kite Runner adalah sebuah film adaptasi dari novel best seller karya Khaled Hoseini yang berjudul sama. The Kite Runner berlatar belakang Kota Kabul, Afghanistan, sebelum perang dan pendudukan oleh Rusia terjadi.

Amir diminta Rahim khan, sahabat lama ayahnya, sekaligus sahabat dekatnya, untuk pulang ke Afganistan, tanah kelahirannya, untuk melakukan sesuatu hal yang sangat penting. Ingatan Amir pun melayang kembali ke masa kecilnya yang indah sekaligus getir. Di masa itu, Amir hidup berdua dengan ayahnya, sepeninggal ibunya yang wafat saat melahirkannya. Amir memiliki teman kecil sebaya yang juga anak pelayannya, Hassan. Amir yang tampan, berhati halus, namun penakut, selalu dilindungi oleh Hassan. Hassan rela berkorban untuk melindungi Amir dari gangguan anak2 nakal.
Pada perlombaan layang-layang, Amir dan Hassan menjadi juaranya, dan Hassan berlari mengejar layang-layang putus itu dengan sebuah janji untuk membawakan layang-layang itu untuk Amir.
Namun sesuatu hal terjadi, dan segalanya berubah. Amir yang pengecut melarikan diri saat melihat Hassan disakiti oleh anak-anak nakal di sebuah gang, dan setelah itu Hassan dan ayahnya pergi dari rumah Amir. Perang meletus, dan Amir dibawa ayahnya mengungsi ke Amerika.

Setiba di Pakistan, Amir ternyata diminta Rahim Khan untuk menyelamatkan anak Hassan yang ditawan oleh tentara Taliban. Kenangan masa lalu pun berputar-putar dalam benak Amir, dan haruskah Amir melakukan hal itu untuk menebus kesalahan dan rasa bersalahnya pada Hassan di masa lalu??



Filmnya sangat mengharukan, sangat indah, dengan cerita yang dibumbui konflik suku, agama, dan perang. Kita akan belajar banyak dengan menontonnya. Disutradarai oleh Marc Foster (Finding Neverland). Novelnya sendiri menjadi best seller dan telah diterjemahkan ke 42 bahasa di seluruh dunia. So, no comment about the story, right?!?
Dan tahukah kamu, meski ceritanya di Afganistan, namun syuting dilakukan di China!!
So, this is a must see movie!

cheers,
-anna-

Monday, November 3, 2008

Movie Review -Stardust


Stardust, sebuah film genre fantasy adventure yang oke banget, seru, rame, menegangkan, lucu, dan romantis, campur jadi satu. Pemain2nya pun oke punya, mulai Claire Danes, Charlie Cox, Michelle, Pfeiffer, Robert de Niro, Siena Miller, dll.

Cerita diawali dari The Wall, sebuah desa di Inggris, dinamakan the Wall karena ada sebuah tembok yang memisahkan dunia manusia dengan dunia sihir. Kemudian ada Stromhold, sebuah kerajaan sihir. Sang raja memiliki 7 orang anak yang saliong membunuh untuk mendapatkan tahtanya. Sebelum mati, sang raja melemparkan kalung rubinya ke angkasa. Yang dapat menemukan kalung itu adalah yang berhak menduduki tahta kerajaan Stromhold selanjutnya. Namun terbyata kalung rubi itu terlempar jauh ke angkasa dan mengenai sebuah bintang hingga ia jatuh ke bumi.



Di the Wall, hiduplah Tristan Thorne (Charlie Cox), seorang pemuda tanggung berumur 18 tahun yang jatuh cinta setengah mati pada Victoria (Sienna Miller), Tristan berjanji membawakan Victoria bintang jatuh. Namun apa jadinya bila ternyata bintang jatuh itu adalah sesosok gadis cantik yang bernama Yvaine (Claire Danes)??
Tristan kemudian membantu menyelamatkan Yvaine dari kejaran Lamia (Michelle Pfeiffer), ratu kegelapan, wanita tua penyhir yang keji, yang menginginkan jantung sang bintang jatuh untuk resep awet muda. Kemudian juga ada Septimus, anak raja Stormhold yang menginginkan kalung rubi sebagai syarat pewaris tahta. Dalam pelariannya, Tristan dan Yvaine diselamatkan oleh Kapten Shakespeare (Robert de Niro), perompak yang baik hati.
nah, bagaimana akhir filmnya? Apakah Tristan berhasil menyelamtkan Yvaine? Siapa pewaris tahta kerajaan Stromhold sebenarnya??
Banyak kejutan seru di tengah film.. namun namanya juga dongeng, endingnya adalah happily ever after, forever, and ever, hehehee..
Sudahkah anda menonton??