From This Moment On

Daisypath Anniversary tickers
Showing posts with label adat. Show all posts
Showing posts with label adat. Show all posts

Wednesday, October 10, 2012

Cerita Fitting Beskap


Di hari lebaran ketiga, saya bersilaturrahim ke Bapak-Ibu Ngawi. Pulang dari Ngawi saya diantar Mas ke Magetan dan singgah ke Maospati dulu. Kami sudah berjanjian dengan Ibu Mursito perias untuk fitting beskap sang calon manten. Sampai di Maospati sudah menjelang Isya. Oleh Ibu Mursito, kami dibawa ke sanggar rias beliau dan mulai diambilkan beskap khas adat Solo. "Warna apa ya mbak bajunya kemarin?" tanya Ibu Mursito.

"Warna ungu untuk resepsi dan kuning untuk temu manten." jawab saya. "Yang ukuran paling besar ya Ibu," canda saya sambil melirik jahil ke si Mas yang cuman bisa manyun mendengar olok-olok saya. Ibu perias mengambil dari lemari sepotong beskap warna kuning dengan ukuran super besar.

"Ini ukurannya L3," kata beliau sambil menyerahkan ke Mas untuk dicoba. Saya membelalakkan mata sambil berdecak takjub. WOoooww.. Mas mendelik sambil membuka kancing beskap. "Menengo," mulutnya membuka tanpa bersuara. Hahahahaaa...

aduhh seseek niih... gak bisa nafas..
blangkonnya gak muat kekecilan.. :P

Kemudian dicobalah beskap itu. Alhamdulillaah.. paass!! Lega deh ukuran bahunya pas, karena bahu si Mas ganteng ini emang lebar banget ukurannya empat jengkal tangan. Susah nyari bajunya.. (-___-") Udah pernah nemenin dia cari kemeja dan jaket. Sampek stress muter-muter mall kok susah banget cari ukuran yang pas. Luar biasa emang cintaku ini. Wakakakk.. Etapi etapii.. pas udah dikancingin kok ngepress yaaa..  Si Mas mengeluh sesak di bagian leher dan perutnya. Aduuhhh aduuuhh... *nahanketawa*. Ibu perias lalu turun tangan dan mengambilkan vest/rompi dalaman. Vest itu lalu dipakai dan dilapisi beskap di luarnya. "Naahh.. kalau gini enak, gak sesak.." Mas menghela nafas lega. Saya ngakak. Kemudian digetok. :p

aaww... gantengnyaa pake beskap.. <3>
Untuk beskap warna ungu saya pilih ungu tua yang tampak klasik. Namun ukuran L3 tidak ada sehingga nanti akan dipesankan atau dibuatkan baru oleh Ibu perias. Pas bagian nyobain selop juga bermasalah. Gak cuma bahu dan perutnya si ganteng ini aja yang besar, tapi kakinya jugaa.. (O_o) Selop ungu ukuran 43 enggak ada. Jadi nanti sekalian deh dipesankan bareng sama beskap. Demikian juga masalah blangkon. Lingkar kepala si ganteng ini juga masya Allah deeh.. untung ada blangkon yang gedee.. \(^0^)/

Pada awalnya itu sih, kemudian ada perubahan rencana. Pertama, baju temu/panggih temanten diganti warna hitam. Jadi beskap kuning tidak akan dipakai. Kedua, untuk acara unduh mantu Ibu Ngawi ngasih buat Ibu dan Adek kain seragam warna gold, which is means penganten harus menyesuaikan dengan tema acara dan kebaya orang tua. Di awal omong-omong dulu Ibu Ngawi tidak ada rencana menggelar acara dengan warna tertentu, jadi saya menyiapkan kebaya warna ungu yang dibelikan bareng seragam panitia itu untuk pakaiannya dan mas akan pakai jas lagi. Santai sajalaah, then things changes..

Jadi kemudian saya telpon ke Ibu Perias untuk menanyakan beskap warna hitam ukuran besar ada nggak? "Oh ada mbak," jawab Ibu Mursito. Alhamdulilaaah.... Kemudian baju pengantin pria model setelan dan celana -untuk unduh mantu- yang warna coklat muda atau gold ukuran besar, sekali lagi untuk menegaskan, ukuran besar, ada nggak?? dan syukurlah adaaa... *hembuskannafaslega* LOL. Progress terakhir waktu Bapak-Ibu-Adek ke rumah Ibu Mursito akhir September, beskap ungu sudah dipesankan, dan beskap hitam besar juga setelan manten pria warna gold ukuran besar ada. Mungkin kalau bisa nanti fitting sekali lagi pas saya pulang di Hari Raya Idul Adha nanti atau dua minggu jelang pernikahan. Woaalaah.. mas ganteengg.. mas ganteengg.. *cubitcubitperutendutnya*

-anna-

Thursday, September 13, 2012

Mantu Bubak


Karena saya adalah anak perempuan sulung dalam keluarga, otomatis Bapak-Ibu saya belum pernah punya gawe mantu sebelumnya. Jadi acara pernikahan saya dan Mas nanti adalah mantu bubak atau mantu pertama dalam keluarga. Prosesi adat pernikahan nanti akan menggunakan Jawa-Solo. Adat Jawa-Solo nya akan terlihat pada busana/beskap dan blangkon yang digunakan oleh pengantin pria dan orangtua . Sedangkan saya sebagai pengantin perempuan secara riasan tidak akan kelihatan karena konsepnya lebih ke tradisional-muslimah modern.

Bapak saya termasuk yang masih nguri-nguri budaya Jawa, atau istilahnya masih melestarikan. Beliau pintar berpidato dalam bahasa Jawa halus, bisa nembang campursari dan bowo macopat, sering menjadi mc acara mantenan, beberapa kali menjadi cucuk lampah, dan sering juga menjadi wakil keluarga penganten untuk acara serah-tinampi. Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan beliau mengenai ritual acara adat apa saja yang akan dilakukan di acara pernikahan saya bulan November nanti. Pada prinsipnya, Bapak akan tetap menggunakan ritual-ritual dan unsur-unsur kejawen, tapi tidak berlebihan. Sekadar untuk menghormati dan melestarikan budaya. Tapi walaupun Bapak sendiri mengetahui ritual adat lengkap Jawa-Solo, tapi untuk saya nanti akan dipersingkat saja. Praktis, tidak ribet, hemat waktu, hemat biaya, namun tetap berbudaya. #buset :D

No siraman dan midodareni. No budget for that. Saya juga tidak minta diadakan dan Bapak sendiri juga tidak berniat mengadakan. Bapak sempat mengeluarkan lelucon, "ra usah siraman. adus dewe-dewe ae," (tidak usah siraman, mandi sendiri-sendiri saja). Walaupun mantu bubak tapi ritual bubak kawah tidak akan dilakukan. Cukup diumumkan saja oleh pembawa acara bahwa keluarga Bapak A ini melaksanakan mantu pertama dan itu dinamakan bubak harapannya begini begini..dst..dst.. :))

ilustrasi diambil dari internet

Upacara panggih/temu manten akan dilaksanakan dengan ritual lumayan lengkap. Mulai dari balangan suruh (saling melempar daun sirih), wiji dadi (injak telur dan membasuh kaki), kacar-kucur/tampa kaya (menuangkan beras dan biji-bijian sebagai simbol kemampuan untuk menafkahi), dulangan sega punar/dhahar klimah (saling menyuapi nasi kuning dan minum), mapag besan (orang tua menjemput besan), dan sungkeman. Ritual bubak kawah dan timbang/pangkon (bapak pengantin perempuan memangku kedua mempelai) tidak akan dilaksanakan dengan pertimbangan efisiensi waktu. Lagian lucu juga yaa kalau mbayangin ritual timbang dilakukan. Si Mas kan orangnya gedeee.. besaaarrr.. dan beraaaatt.. Kalau dipangku tidak akan seimbang dengan saya alias njomplang banget. Hahahaa.. Kasian juga kaan Bapak saya yang kebagian tugas mangku. :p

Baiklah.. untuk keterangan dan informasi yang lebih lengkap mengenai ritual pernikahan adat Jawa ini temen-temen bisa langsung nge-link ke jagadkejawen.com. Artikelnya cukup enak dibaca dan informatif. :D Saya sebagai anak dan calon pengantin manut-manut saja apa kata orang tua yang lebih mengerti. Tidak ada salahnya juga sebagai orang Jawa ikut menghormati dan melestarikan tradisi leluhur. Kalau untuk ritual lengkap memang ribet dan membutuhkan banyak biaya. Jadi kita juga sesuaikan dengan rangkaian acara dan kemampuan finansial siiih.. Yang penting esensi utamanya yaitu panggih/temu manten tidak ketinggalan, kalau ritual-ritual yang lain hanyalah pelengkap dan bisa dilaksanakan/tidak sesuai kondisi keluarga masing-masing. :)

-anna-